![]() |
| jurnalis masa kini |
Sebagai salah satu bidang dari ilmu komunikasi, jurnalisme ikut dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang seolah tak pernah berhenti. Bahkan, jurnalisme itu sendiri sebenarnya selalu dibentuk oleh teknologi. Sejak zaman Julius Caesar, proses penyebaran dan penerimaan informasi dari satu orang ke orang yang lain; dari rakyat kepada raja atau dari raja kepada rakyat selalu bergantung dengan teknologi yang ada. Penemuan-penemuan seperti mesin ketik oleh Gutenberg dan telepon oleh Alexander Graham Bell pad akhirnya menjadi titik tolak teknologi yang mengubah cara jurnalisme bekerja.
Alat yang digunakan oleh jurnalisme dalam melakukan pekerjannya juga berhubungan erat dengan perkembangan teknologi. Sekarang, tampaknya alat yang dibutuhkan oleh jurnalis dalam menyebarkan beritanya hanya kamera, kabel penghubung ke laptop, dan koneksi internet. Pada zaman media konvensional, banyak jurnalis protes karena merasa “overworked” dalam pekerjaannya. Argumen itu tidak lagi berpengaruh sekarang karena semuanya dapat dilakukan dengan mudah. Bahkan peralatan yang dulu membutuhkan tenaga lebih untuk membawanya, (seperti kamera yang besar, kotak, dan berat) dapat dibawa di dalam kantong. Alat perekam juga ukurannya mengecil walau dengan fitur yang lebih canggih.
Seiring berjalannya waktu, pada kejadian lainnya, yaitu tsunami Aceh di tahun 2004. Dengan teknologi internet yang telah muncul, ketidakjelasan informasi itu dapat sedikit diatasi. Namun pada awalnya, karena masyarakat belum terlalu akrab dengan internet, kebingungan tentang apa yang sebenarnya terjadi tetap ada ketika berita ini dibawa pada kancah internasional. Berita yang muncul lewat radio dan website-website terlambat muncul, dan dipenuhi gambar dan video amatir yang di-upload ke internet. Skala penuh dari kerusakan yang terjadi akibat bencana itu membutuhkan waktu lebih dari 36 jam untuk menyebar ke Negara-negara asing, namun media di sini sudah dapat menyajikannya lebih cepat dari sebelumnya, menandakan perubahan teknologi yang membantu mereka menyebarkan informasi tersebut.
Sekarang, teknologi yang ada sudah sedemikian canggih hingga berita tentang pemilihan umum di Amerika atau pernikahan Pangeran William di Inggris bahkan bisa diakses di belahan dunia manapun dengan waktu yang sama cepatnya, antara lain lewat radio, televisi, website, handphone dan media sosial. Berita yang disajikan pun sudah berupa data yang mendetail disertai foto dan video, serta sumber-sumber yang jelas. Munculnya “citizen journalism” juga mempercepat penyebaran informasi itu, karena seseorang tidak perlu lagi mendalami profesi jurnalisme untuk meliput dan menyebarkan berita. Yang ia butuhkan hanya telepon genggam yang memiliki fitur kamera dan koneksi internet dan akun di media online.
Internet memang merupakan inovasi teknologi yang sampai sekarang masih sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu komunikasi, atau dalam bidang jurnalisme yang kita bicarakan saat ini. Internet dan e-mail telah mengubah proses newsgathering di seluruh dunia menjadi sebuah ‘jurnalisme modern’. Dapat dilihat dari banyaknya sekelompok editor di seluruh dunia yang tadinya bergantung pada Negara lain (con: Afrika Selatan) dan pemerintahnya (ex: Arab), menjadi independen dengan menggunakan koneksi internet mereka sendiri. Dalam beberapa tahun, dapat diperkirakan bahwa tidak akan ada lagi pemerintah otoriter yang dapat mencegah rakyatnya dari menerima informasi, karena di era ini, informasi merupakan sesuatu yang makin cepat menyebar dan mudah diakses.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar